JELAJAH Kuala Lumpur – PENANG

Petronas

Klik klik klik browsing tiket Airasia, Tiger, Jetstar. Eits, mau kemana gue? Ke KL Ngabisin libur panjang akibat cuti bersama sehari. Gue pun ajak teman dari Medan yang udah sering bolak-balik ke KL, paling gak tau setiap sudut kotanya hehe. So, diaturlah jadwal tiket kami dan yang paling penting mau ke kota mana, urusan di kota itu mau keliling kemana dipikirin sambil jalan aja. Opsi pertama ke Sing baru ke KL, opsi kedua KL-Penang-KL. Karena pertimbangan tiket lebih murah dan sama-sama belum pernah ke Penang, akhirnya kita pilih opsi kedua.

Dengan flight malem Airasia jam 19.00, gue berangkat dari Jakarta- Kuala Lumpur. Sementara temen gue sudah berangkat duluan siang nya dari Medan. Jakarta-KL ditempuh selama 2 jam penerbangan dan waktu di KL satu jam lebih cepat dari Jakarta. Jadi jangan lupa putar jarum jam nya satu putaran ke depan. Karena biasanya banyak yang lupa dan suka bermasalah membaca jam penerbangan padahal belum disetting degan waktu setempat.

Begitu sampai bandara LCCT (Low Cost Carrier Terminal), bandara khusus untuk Airasia di Kuala Lumpur, selanjutnya naik bis ke KL Sentral (semacam terminal utama di Kuala Lumpur). Ada 2 cara untuk menuju ke KL Sentral sebenarnya, bisa naik bis atau naik LRT (light rail transit), hanya saja jam operasi LRT ini cuma sampai jam 11 malam aja. Sementara klo bis bisa naik Aerobus atau Skybus yang tersedia selama 24 jam dengan interval waktu berangkat tiap setengah jam sekali.

LCCT-KL Sentral ditempuh kurang lebih selama satu jam. Hotel tempat kami menginap namanya My Hotel yang terletak di Jalan Bricfields, sangat dekat dengan KL Sentral, tinggal jalan kaki selama kurang dari 5 menit. Di Bricfields ini juga banyak tersedia hotel murah lainnya, tinggal pilih saja. Namun untuk rekomendasi terbaik si ya My Hotel ini (di jalan Brickfields ini My Hotel ada 2 buah yang letaknya berdekatan). Dan klo sampe KL Sentral sudah tengah malam, jangan khawatir untuk urusan makan, masih cukup banyak tempat makan pinggir jalan yang buka.

Esok paginya kami kembali ke bandara LCCT untuk flight pagi kami jam 08.10 untuk meneruskan perjalanan ke Penang. Mau tak mau kami pun harus berangkat Subuh sekitar jam 5 pagi dari KL Sentral. Padahal baru tidur 1-2 jam, muka cemot dan gak karuan ya sudahlah, toh tak ada yang kenal, cuek aja hahaha. Kuala Lumpur-Penang sendiri ditempuh selama 50 menit.

Kota Penang

Penang ini terletak di Pulau Pinang dengan ibukotanya George Town. Dari Bandara ke kota George Town naik Rapid Penang (macam busway klo di Jakarta) nomor 401E. Tiketnya dapat dibeli didalam rapid, jadi begitu masuk rapid bilang sama sopirnya tujuan kita (sesuai tempat yang dilalui rapidnya), nanti sopir kasih tau harga tiketnya, uangnya tinggal dimasukkan ke sebuah lubang dan sopir kasih tiketnya. Harga tiap jurusan tentunya berbeda-beda. Tips, sediakan banyak uang kecil (RM1) dan recehan, karena kita sebaiknya bayar dengan uang pas, kebanyakan sopir tak punya kembalian.

Rapid ini cukup nyaman dan bersih, klo kita mau berhenti di halte terdekat kita tinggal pencet tombol ‘stop’  berwarna merah yang tersedia disetiap tiang-tiang di dalam rapid. Kekurangan rapid ini buat orang asing, tiap kali sampai halte tidak ada pengumuman sudah sampai di halte mana, seperti yang biasa terdengar di Busway klo di Jakarta. Meski di dalam rapid ada peta halte mana saja yang dilewati tapi kadang susah juga, mesti mengira-ngira, andalan terakhir ya tinggal nanya aja ma orang.

Kami turun di Komtar (Kompleks Tun Abdul Razak), sebuah gedung tinggi yang merupakan gedung tertinggi kedua di Malaysia setelah Petronas dimana didalamnya ada mol, perkantoran dan stasiun utama rapid. Dari sana kami jalan kaki sekitar 10-15 menit ke Tune Hotel tempat kami menginap. Kami pikir, George Town ini kota yang nyaman dan menarik.

Old Town

Makan siang kami menuju ke New World Park yang berada di sebelah kiri hotel. New World Park ini semacam tempat nongkrong untuk makan dan minum dan di kawasan tengah terdapat panggung band. Kami memilih makan di Old Town, kedai kopi yang menyajikan makanan juga, seperti Starbuck lah. Namun yang special dari Old Town adalah white coffee-nya, jelas sekali itu menjadi trade marknya “Old Town white coffee”. Dan siang itu gue pesen nasi lemak with fried chicken dan cold white coffee. Mantap sekali.

Berbekal petunjuk nomor rapid bus lengkap dengan jurusannya yang didapat dari hotel, mulailah kami berpetualang. Naik rapid nomor 204 dari Komtar menuju ke Penang Hill (Bukit Bendera). Ada apa disana? Di Penang Hill ini terdapat kereta listrik yang bakal membawa kita menaiki bukit dengan kemiringan sekitar 30 derajat. Tiketnya sebesar RM6. Namun sayang, waktu kesana kereta tersebut sedang rusak.

kereta listrik @Penang Hill

Dekat dengan Penang Hill sebenarnya ada tempat wisata lain, seperti Kek Lok Si Temple dan bat Cave Temple. Tapi kami memutuskan menuju ke Port Cornwallis. Port Cornwallis ini berupa museum benteng tua jaman Inggris lengkap dengan meriam-meriamnya. Ada satu meriam yang paling besar dan konon dikeramatkan, namanya  Meriam Seri Rambai. Meriam ini kndisinya masih bagus dan terletak di sudut benteng dan mengarah langsung ke laut. Keunikan lainnya, kita bisa menemukan banyak sekali burung gagak yang berkeliaran disini dan suasana kota kolonial sangat terasa sekali. Tiket masuk kesini RM2 per orang.

Merian Seri Rambai @Port Cornwallis

Naik free shuttle bus mengantarkan kami kembali ke Komtar untuk beristirahat sejenak di hotel. Sore hari melanjutkan perjalanan ke Batu Feringgi dengan rapid Penang  nomor 102 dari halte di depan hotel. Kurang lebih satu jam perjalanan menuju ke Batu Feringgi, tujuan kami ini sebenarnya kami mengejar matahari terbenam dan katanya pantai di Batu Feringgi ini paling bagus.

Menuju kesana kami melewati daerah pantai yang cukup bagus, Ada Tanjung Bunga dengan pantainya yang mirip dengan Bangka Belitung, mirip karena ada batu-batu besarnya, itu saja, hanya saja di sini lebih sedikit. Hotel-hotel disini juga bisa dibilang sangat bagus dengan view yang menawan. Jadi pengen rasanya menginap disini hehehe…

Sampai di Batu Feringgi kami sempatkan makan dulu. Ada sebuah tempat makan macan foodcourt gitu dan cukup ramai dengan pengunjung rata-rata muka bule. Ada satay, kebab, fried rice, mie, laksa dan lain-lain. Kami pun coba pesan satay, ada satay chicken dan beef, bisa juga mix antara keduanya, 12 tusuk dihargai RM8 sekitar 23 ribuan klo dirupiahin. Satay disini bumbu kacangnya mirip bumbu siomay or batagor tapi gak pedes, itu kekurangannya (Indonesia banget  ya, gak nampol klo gak pedes). Untuk minumnya gue pilih sirup lychee, harganya RM2,5. Lumayan lah buat cemilan sore hahaha

Satay Mix Chicken & Beef

Setelah kenyang, kami berjalan dan menuju ke pantai, pas saat itu benar-benar sunset. Pantainya sebenarnya biasa, mirip Kuta di Bali sebenarnya hanya saja pasirnya disini putih kasar. Kita (mungkin) bisa juga naik kuda, karena pas disana ada bule-bule yang naik kuda gitu, dan kudanya tak cuma jalan tapi lari. Klo gue disuruh coba, ntar dulu deh daripada pulang Jakarta membawa luka hehehe…

Jalanan malam di Batu Feringgi ini ramai sekali dengan pedagang-pedagang kaki lima layaknya di Malioboro, Jogja. Ada yang jual pakaian, kacamata, souvenir, lukisan dan banyak lagi. Jangan ragu untuk menawar, biasanya mereka pasang harga tinggi dulu. Seperti pengalaman gue kemaren, gantungan kunci 6 buah di satu penjual gue lihat di label harganya 10 ringgit, di toko sebelah nya lagi gue ditawarin 16 ringgit. Tak mau lah gue, eh penjualnya langsung turunin harga jadi 15 ringgit, gue diem aja, dia turunin lagi menjadi 13, lalu 10, terakhir dia kasih 8 ringgit. Akhirnya gue bisa bawa pulang dengan harga 7 ringgit hehehe. Dan klo barang tersebut ada label harganya, jangan takut juga untuk menawar, tanya saja apakah itu sudah harga fix ato masih bisa kurang, pandai-pandai saja mulut berbicara hehehe.

Nasi Kandar + Teh Tarik

Kembali ke hotel dan makan malam di Kedai Nasi Kandar dekat hotel. Nasi Kandar ini nasi putih dicampur dengan lauk, bisa milih ikan, telur, cumi, rendang yang semua berkuah santan, lalu disiram dengan berbagai macam kuah kari. Minumnya secangkir teh tarik, nikmat sekali. Sebenarnya masih pengen makan yang lain tapi perut ini rasa tak mampu hu hu hu….. Satu yang selalu membuat gue terkesan, cara mereka membuat teh tarik, cepat sekali dan tak tumpah ketika diayun-ayunkan. Kata teman, it’s his job, everytime he’s doing that thing, so he expert about that. Pastinya, but it always impress me.

Esok hari dengan penerbangan paling pagi jam 06.50 kembali kami ke bandara Penang naik teksi (begitu orang sana menyebut taksi), RM 60. Sepertinya perjalanan ini kami menjadi orang dengan spesialis penerbangan pagi hehe…Muka pun kembali cemot, karena masih ngantuk luar biasa. Ngupi sebentar di McD dan selanjutnya kami terbang ke KL. Di KL Sentral kami menitipkan tas di Locker dengan biaya RM5 yang berlaku sampai malam, agar kami bisa jalan-jalan tanpa membawa beban.

Selanjutnya naik LRT ke KLCC, tadinya mau naik ke atas Petronas tapi karena dah keburu siang jadinya tiket yang dibagikan secara gratis sudah habis. Ya, kita bisa naik ke Petronas gratis, pagi hari mulai jam 8 dibagikan tiket gratis dengan jam naik yang berbeda. Jadi harus datang pagi-pagi karena tiketnya juga terbatas. Tapi jangan datang hari senin, karena hari itu off untuk maintenance mingguan.

Gue mencoba menghubungi teman yang sedang liburan di KL juga buat ketemuan, tapi karena terlalu lama gak ada kabar akhirnya kami memutuskan ke Batu Caves yang terletak di Negara bagian Selangor, sekitar 13 km utara Kuala Lumpur. Dari stasiun KLCC dengan LRT menuju ke stasiun Gombak/Putra (stasiun terakhir). Dari sana tinggal naik taksi selama kurang lebih 15 menit, tawar aja RM15. Karena pengalaman kemaren kami dikenai RM30. Pas pulangnya ditawarin RM15. Kami cuma bisa saling melongo, dua kali lipat cuy. Kata temen RM15 lumayan buat makan plus ngupi di Old Town, banget!.

Batu Caves

Batu Caves ini sebuah gua besar di dalam bukit  batu kapur, disana terdapat tempat ibadah orang Hindu dan kebanyakan keturunan India. Untuk bisa mencapai gua tersebut kita mesti naik 272 buah anak tangga dengan kemiringan 30 derajat dan cukup tinggi. Gua ini sangat besar dan terang, di dalamnya ada lubang besar dan ketika sinar matahari masuk, pemandangannya begitu bagus, sinar matahari begitu jelas terlihat.

Pemandangan unik lainnya, didalam gua ini hidup monyet-monyet dan burung dara. Kita pun bisa memberi makan monyet tersebut, tapi hati-hati ya, si monyet bisa merebutnya dan naik ke badan hehe…Tapi tenang saja, aman kok, mereka cm mau makanannya saja. Di sebelah batu caves terdapat Dark Cave. Seperti namanya gua ini sangat gelap, untuk trip ke dalam dikenakan biaya dan cukup mahal. Beda dengan batu caves, di dark cave ini kita dilarang memberi makan monyet.

Dari Batu Caves kami kembali ke KLCC untuk makan siang. Satu hal yang paling gue gak suka makan di foodcourt di KL or Sing, selalu susah mencari tempat duduk, mostly in wiken yak. Makanya paling suka gak makan di foodcourt hehehe… Lalu kami kembali ke KL sentral ambil tas dan menuju ke Bricfields lagi untuk cari hotel buat malam ini dan pilihan masih jatuh ke My Hotel setelah berkeliling ke Hotel Mexico dan Hotel Sentral.

Keramaian @Masjid Jamek

Sore hari kami menuju ke Kawasan Masjid Jamek, naik rapid dari KL Sentral tinggal 2 kali melewati stasiun Pasar Seni baru stasiun Masjid Jamek. Kawasan ini so hip sekali klo malam. Segala macam pedagang ada layaknya pasar malam, dan gue seneng banget karena banyak sekali jajanan huhuy. Dari laksa, otak-otak, berbagia macam cake, berbagai macam sate, krupuk ikan, rojak, kacang rebus, jagung bakar dan masih banyak lagi. Sangat menyenangkan.  Buat yang pengen cari kain-kain untuk buat baju, disini juga banyak. Untuk yang satu ini ada toko langganan temen gue, kemaren aja dia mpe borong hahaha…..

Puas berkeliling, balik ke Bricfields dan makan malem di Old Town (lagi), ngupi white coffee n makan mie kuah kari, mantap! Dan saat itu hujan turun, lucu juga, besok mau balik Jakarta eh malamnya ditangisi hujan, KL gak mau gue balik Jakarta neh kayana hahahaha.

Hotel dan Tiket Rapid

Estimasi pengeluaran di luar tiket pesawat :

-          Tiket Aerobus LCCT-KL Sentral : RM8

-          Tiket Sky Bus LCCT-KL Senral : RM9

-          Tiket LRT KL Sentral-KLCC : RM1,6 (berbeda untuk tiap jurusan)

-          My Hotel (Bricfield) : RM75 (double bed)

-          Tune Hotel (Penang) : RM98 (king bed)

-          Tiket Rapid Penang : Bandara Penang-George Town (Komtar) : RM2,70

Komtar -Penang Hill : RM2

Komtar-Batu Feringgi : RM2,70

Jurusan lain beda-beda tarifnya

-          Nasi Kandar (lauk ikan dan telur dadar) : RM6

-          Teh tarik : RM2

-          Nasi Lemak (Old Town) : RM7,9

-          Mie kuah kari (Old Town) : RM7,9

-          White Coffee (cold) : 5,9

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.