GELAYUT MANJA ANAK KRAKATAU

Petualangan tak terduga karena sebenarnya ini di luar rencana. Tapi akhirnya I’m in dalam petualangan seru, menegangkan, kocak, dan penuh ceria. Yippi da badoooooo Krakatau here we come (naik mobil ala jaman batu tapi sudah ada mesinnya jadi gak capek ngayuh)

Ngumpul di depan Balai Sarbini, Plangi, aku berangkat bareng si Kyum, terjebak macet di jalan sudirman, pas macet-macetan lha kok ya bareng ma big bos, mobil RI 20 itu tiba-tiba ada di samping cuy. Daku ma Kyum otomatis membuka kaca taksi dan dadah dadah dong, secara ma bapaknya sendiri harus ramah, trus salaman n foto bersama pake BeBe, upload deh di twitter. Aku liat orang-orang yang kena macet disekeliling pada ngeliatin semua dengan muka bête, Whatever lah yang penting ngeksis. But tiba-tiba ajudan si bapak bawa seember air dan diguyurin ke kepalaku and Kyum sambil teriak “woiiii, bangun  urang sadayana, khayalan kalian sudah terlalu jauh”. Otomatis aku kaget dan teriak “ Apah? Hanya khayalan? Baiklah klo begitu  *lanjut twitteran *muka polos.

Di Plangi ternyata udah banyak yang kumpul, satu dua tiga empat…..dua puluh tujuh. Dan mataku terpaut (halah) pada satu orang, eh ini Luna Maya bukan si, beneran ni Luna Maya bareng bodyguard bernama Wisnu en Fauzan ikutan ke Krakatau *kucek-kucek mata , oh mirip Luna Maya, tak apalah so good so nice lah hahaha *jadi ngiklan sosis *dadah dadah Detania aka Ajeng :D

Daripada kelamaan berangkat aja yuks. Dua mobil layaknya travel membagi kami dua kelompok, geng mobil berisik dan geng mobil tenang. Disebut geng mobil berisil karena sepanjang jalan orang-orang di dalamnya berisiknya minta ampun (termasuk gue si makhluk ganteng yang ada didalamnya), ditambah alunan lagu-lagu Ungu, ST 12, Wali dan sejenisnya yang membuat kami teriak, ada lagu laen gakkkkkk??? Briptu Norman kek, Shinta Jojo kek, Kangen band kek *jiaaahhhhhh *dikeroyok semobil.

geng mobil berisik

Melewati jalan tol yang panjang sekali dan kemudian mengarungi lautan dengan kapal fery sampailah di pelabuhan Bakauheni dan mulailah menjelajah Lampung menuju Pelabuhan Canti, Kalianda, Lampujng Selatan kira-kira 2-3 jam perjalanan dari Bakauheni. Naik turun bukit, jalan berkelak kelok, sawah, ladang, hutan, perumahan tapi dari tadi gak ada mol yang keliatan yak #kalem  *tendang keluar mobil.

Pelabuhan Canti ini pelabuhan kecil saja, melayani pelayaran dari dan ke pulau-pulau di sekitar Lampung Selatan, Pulau Sebesi, pulau Sebuku, pulau Rakata, pulau Panjang, Anak Krakatau. Komoditi utama yang paling menonjol adalah pisang, yak ada kapal yang berlabuh dan penumpangnya adalah pisang semua, semua itu diambil dari pulau-pulau tadi. Tak heran kan cemilan populer dari Lampung adalah keripik pisang yang dibuat dengan berbagai macam rasa, ada coklat, keju, original dan lain-lain (serasa sales toko oleh-oleh). Ada gak ya keripik pisang rasa crispy, klo belom ada, itu ide ku ya (minta royalty klo ada yang bikin).

pisang ijo

Setelah berberes tujuan selanjutnya Pulau Sebesi, pulau dimana kami akan menginap nanti. Tentunya kesana  pake kapal ya, mobil kami bukan mobil amphibi, belom secanggih itu kok, kecuali dipinjemi mobilnya agen 007 (emang ada gitu *berpikir keras bukan berpikir biar jadi keras  #eeaaa  #ngok).

Ditengah perjalanan kami sempatkan untuk snorkeling dulu di dekat pulau Umang-umang. Bersama Bunga, Arya, Kyum, Madam Sherly, Anggun en Riana. Foto-foto, nyari kerang dan terumbu karang trus bak penjelajah sejati mencoba mengelilingi pulau Umang-umang itu. Alhasil ketika berhasil mengelilingi pulau, kami diteriakin orang-orangan kapal, eh temen-temen yang dikapal maksudnya supaya cepat naik ke kapal karena mau lanjut ke Sebesi. Ternyata kami sudah terlalu lama berkutat di pulau itu.

pulau umang-umang

Pulau Sebesi yang ditempuh selama satu jam ini merupakan pulau terbesar di antara pulau-pulau lain disekitarnya. Banyak pemukiman penduduk disini, ada pasar, warung, Masjid, sekolah pun ada. Sebagian penduduknya banyak yang beternak kerbau. Dan rumah tempat kami menginap berada tepat dibibir pantai, 4 rumah dengan 3 kamar tidur masing-masing dibagi 3 rumah buat cewek, 1 rumah buat yang cowok. Udah kayak ikan asin dijemur dah yang 1 rumah itu hahaha.

Setelah ganti baju kering dan bersiap menuju rute pertama kita menikmati dulu air kelapa hijau yang disediain orang penginapan, seger banget. Ma Aryo bilang ma Dinda, pohon kelapa itu tumbuh dari buah kelapa, berarti buah kelapa itu adalah benih atau bibit pohon kelapa yang dalam istilah biologinya disebut spermatozoa, jadi klo kita minum air buah kelapa jadinya kita minum…………. Yang tau jawabannya jawab via BBM ato twitter aja yak hehe.

minum kelapa ijo

Ke Krakatau, ditempuh selama kurang lebih 2 jam. Cuaca agak gerimis dan angin pun cukup kencang ditambah ombak yang cukup bikin jantung degt-degan karena kapal menjadi terayun-ayun cukup keras. Yang gampang mabuk pasti dah muntah-muntah tu. Dinda yang duduk di dek atas kapal sebagai garda depan (karena duduknya paling depan bersandar pada tiang dengan tangan ala Kate Winslet ‘Titanic’) pun menyerah dan turun ke bawah. Mas Gamet yang tidur disebelah kiri Dinda tetep anteng, Primas dan Reza yang bobo romantis sebelah kanan juga nyenyak.

Dan finaly kami injak bumi Krakatau. Dibantu 2 guide mulailah pendakian ini. Karena Anak Krakatau ini masih kecil (namanya juga anak, pasti masih kecil lah, yang gede punya siapa hayooo ngaku…..wkwkwkwk) dan masih terasa panas pasir di permukaan, tanaman yang tumbuh pun belum banyak dan merata. Pemandangan yang paling menonjol ya pohon cemara or pinus or whatever it called. Tanjakan ke arah puncak sudut kemiringannya sekitar 30 derajat dan berupa pasir semua. Tapi dilarang untuk sampai puncak, karena hawa panas dan bau belerang sangat menyengat. Klo disuruh nekat sebenernya si pengen banget naik ke puncak hehe…

Pemandangan dari punggung Anak Krakatau ini begitu menakjubkan, so speechless, awesome, indah banget sumpah bikin kami gak pengen turun. Kami pun sudah memetak-metak tanah buat bangun rumah, bangun hotel, cottage, resort and spa #ngok. Pas mau turun dicegah ma Trio Primas, Reza ma Rahmat, mereka bilang tunggu sebentar, buswaynya bentar lagi datang. Aksi diteruskan, memetakan garis di laut sebagai jalur busway. Sementara gue bilang ada awan bawah kerucut anak Krakatau, Dinda bilang itu asap *efek bau belerang telah meracuni pikiran dan mata kami rupanya

puncak anak krakatau

Dan bau belerang itu ternyata tak hanya mempengaruhi pikiran dan perilaku kami, tapi juga mempengaruhi tingkah polah dua orang pemandu, lihat saja kenarsisan mereka gak kalah, juara? hehehe…

sang pemandu

Makan siang di tepi pantai anak Krakatau rame-rame meski dengan sayur dan lauk sederhana tapi begitu nikmatnya. Bukan apa-apa emang laper soalnya hahahaha, jadi apa aja mau daripada pingsan. Then we have to go…….see u anak krakatoa, we’ll miss u so much and promise we’ll back soon. So much muahhh *serentak aksi kiss bye semua.

me @anak krakatoa

Sebelum kembali ke Sebesi snorkeling lagi, dan menjelang sunset berlayar pulang.

rumah penginapan

Suasana mandi di rumah penginapan ini cukup seru juga. Kebetulan kamar mandi di rumah yang cowok airnya gak ngalir samas ekali. Jadilah kami antri mandi di kamar mandi yang ada diluar yang cuma ada 2 buah itu. Aku coba numpang mandi di rumah yang cewek, kebetulan tinggal ngantri satu orang. Habis mandi trus makan malam dilanjut ngobrol ngalur ngidul cekakak cekikik soal obsesi Bunga dengan 44 nya dan lain-lain yang dipandu oleh Wakil Pembina, Mas Dwi.

Ganti suasana ma Wisnu Cimol pindah ke warung, mau ngeteh manis aget sebenernya hehehe. Di warung sudah ada Mas Gamet, Ajeng, Mas Ardy. Tak berapa lama Mas Aryo, Mas Dwi, Dinda, Sisca, Bunga dan Arya ikut gabung, dan terbagilah 2 kubu dalam satu kelompok. Apakah telah terjadi perpecahan dalam kelompok ini, apakah mereka saling membenci, bagaimanakah kelanjutan kisah cinta yang terjalin antara si X dan si Y, dan siapakah yang akan terdeportasi malam ini, saksikan terus dilayar monitor anda. Saya, Admin, undur diri sampai jumpa besok malam di BIG BROTHER SEBESI (BigBrother  edisi prepet-prepet). Tiba-tiba ada tokek bunyi dan gue akan mencoba mentransletkan apa yang dia bilang meskipun bikin gue jadi takut ma tokek itu, dia bilang gini “ woi teruskan ceritanya woi, klo gak gw gampar lo”.

Jadi 2 kubu ini menjadi yang main kartu ma yang ngobrol gak jelas bikin sixpack. Yang main kartu Mas Dwi, Mas Gamet, Mas Aryo, Mas Ardy, Ajeng, Sisca dan muncul kemudian Wisnu Harahap. Sedang kubu satunya gue, Wisnu Cimol, Dinda, Bung dan Arya. Dari Lo Gua End, Lo Gua Ngok, Lo Gua Ahh, Kacang Sukro, Mie Rebus dua telur (satu dikocok satu utuh) nya Bunga, trus Wine Manis Anget yang bikin Bunga ‘teler’ dan mulai nge-hang sampai puncaknya dia membunyikan terompetnya (kentut) yang semula tak diakuinya meskipun tak seberapa besar bunyinya, lebih mirip terompet mampet ‘prepet prepet’ huahahahaha *ampun Bungaaaaa

sunrise @sebesi

Selamat pagiiiiii……bangun setengah 5 lebih, buru-buru ke kamar mandi udah gak tahan pengen #pup *ups, lalu buru-buru balik kamar, solat Subuh, trus ambil kamera potret sunrise, balik kamar ambil BB sama charger menuju ke warung numpang nge-charge, ketemu Fauzan dari rumah orang setempat katanya habis numpang #pup (sory bro aib lo gue ungkap hahaha), lanjut keliling kampung, liat kebo dilapangan hehehe….balik penginapan, sarapan, packing, berangkat buat hoping island. Menuju ke kapal kami disuguhin kata-kata peringatan-peringatan di tembok pagar pantai salah satunya ‘dosa para penzina’, mmmmm……

So let’s get started, snorkeling-snorkeling, banyak lihat ikan-ikan dan warna-warni terumbu karang dan biota laut lainnya. Banyak juga kejadian lucu dari orang-orang nya, mulai kisah momogi gara-gara gue minta snack ma Dinda trus dikasih momogi, eh banyak yang cemburu wkwkwkwk  *dikeroyok sekapal. Pas snorkeling Bunga kaget ada benda panjang putih dan ternyata itu kakinya Cici hahahaha, Wisnu Cimol dengan renang gaya bebasnya yang bikin heboh karena air laut muncrat kemana-mana, dan hebohnya Mas Dwi yang selalu ngajakin snorkeling sampe dipanggil-panggil padahal guenya dah nyebur duluan ckckckck.

snorkling

Menjelang siang, kapal kembali ke Sebesi untuk ambil makan siang, then menju ke Pulau Sebuku kecil buat makan siang. Pulau Sebuku ini pantainya biru banget, pemandangan disekelilingnya juga bagus tapi panas karena emang siang bolong. Dan menu makan siang kali ini, nasi putih, cumi saus hitam dan ikan goreng. Nikmat mantap. Ajeng aja mpe bilang ‘gue suka cumi saus itemnya’. Pertanyaannya, apakah Ajeng nambah cuminya?

pulau sebuku

Akhirnya kembali ke pelabuhan Canti, antri mandi lagi, giliran siapa, gue habis siapa, lo habis siapa, habis lo siapa, habis gue siapa sambil ditungguin di depan kamar mandi wkwkwkwkwk, jadi ketauan kan yang mandinya lama. Seingat gue untuk antrian dimulai dari Ajeng, trus Wisnu Cimol , lanjut Reza, gue, Rahmat, Mas Aryo, Arya selebihnya bukan urusan gue karena emang gak tau hehehe (sory buat yang gak kesebut.)

Habis mandi seger, ganti baju, sisir rambut (halah), semprot parfum dikit, tak lupa buat solat trus liat Gita makan es krim jadi pengen, lanjut ke warung seberang udah ada Riana ma Dyah or Atih ya (lupa) lagi makan bakso, akhirnya ikutan beli bakso juga. Ajeng pun ikutan kepengen trus pesen juga, Mas Aryo juga ngikut. Sementara yang laen banyak yang pada beli es krim magnum.

bakso @sebesi

Tiba waktunya untuk meninggalkan Canti yang sederhana tapi cantik, dimana banyak jejak senyum canda tawa kami disana, jejak air bilasan kami, jejak sampah kami, jejak tapak langkah kami,  jejak nafas kami  jejak kata-kata cabul (ada gak ya???? *bbm yang lain, nanyain kata demi kata termasuk cabul ato enggak) #pencitraan.

Melalui distrik Kalianda, Lampung Selatan dan tak berapa lama sampailah di Bakauheni dan langsung masuk fery sambil menikmati pertunjukan gratis manusia-manusia pemburu receh di tepi kapal fery. Dan masih saja bikin heboh ma Mas dwi, Wisnu Cimol, Cici and Dinda sampai gak enak ma yang lain karena kita ketawanya dah kayak 50 orang aja. Dan ada pemandangan “Koyo Man” aka manusia berkoyo’, si Arya yang lehernya ditempel koyo salonpas (dilarang sebut merk klo dibayar #eh)

senset @bakauheni

Sunset yang mulai terlihat mengalihkan pandangan kami, semua orang seakan berlomba menjadi fotografer profesional dadakan, dengan berbagai gaya mencoba mengambil momen itu, dari gaya manyun ala Bunga, gaya kalem ala Mas Aryo sampai gaya ngetekin ala Ajeng tapi gak ada yang ala Chef (*dikecup Farah Queen). Gak puas disitu, kami pun naik ke atas, dek kapal paling atas, istilah kerennya rooftop. Tapi ternyata kami terpencar, yang naik ke rooftop cuma gue, Mas Dwi, Ajeng, Cici, Wisnu Cimol, Dinda, Mas Aryo, Kyum, Fauzan, Lutfi dan terakhir naik Wisnu Harahap.

Kehebohan masih terus berlanjut. Mas Dwi masih terus berusaha ‘ngedeketin’ Cici (uhuk-uhuk #eeaaa #ngok), Muslih dan Fauzan yang asik cerita berdua, Kyum yang pewe duduk sendirian, Ajeng yang sibuk dengerin musik dan nyanyi gak jelas di ujung yang lain, daku yang galau tiduran menatap bintang di langit (halah), Wisnu Cimol yang masih berusaha membuktikan sebagai pakar Parkour (hehehe), Mas Aryo yang ikutan galau natap bintang-bintang, Wisnu Harahap yang waktu itu masih entah ada dimana dan akhirnya semua disatukan oleh Dinda dengan cerita-cerita serunya yang dari sini ujung sana punteun semua dan Suster Ngesotnya Mas dwi yang ngaku kalah hihihihi.

@rooftop

Tapi tiba-tiba kami dikejutkan oleh suara misterus, ada suara tak ada wujud, oh ternyata suara dari bawah. Kami diminta turun saat itu juga, suara heboh kami membuat kapten marah, klo kami gak turun akan dicium kapten kapal satu-satu. Jelas saja kami memilih turun daripada dicium kapten kapal, kami lebih memilih harga diri dan kehormatan kami sebagai anak bangsa yang berbudi pekerti yang luhur dan berani berkata tidak untuk narkoba dan free seks  #pencitraan. Yang bener disuruh turun aja dan jangan bikin ribut.

Kami pun turun, tapi masih aja tetep bikin heboh dan kemudian terdengarlah lagu cinta satu malam yang terkenal itu. Ternyata teman-temen yang lain ada di panggung dangdut cinta satu malam itu. Sampai akhirnya pelabuhan Merak telah menanti kami untuk segera pulang ke rumah masing-masing. Plasa Semanggi menjadi titik awal keberangkatan dan titik akhir kepulangan kami, kami pun berpisah untuk bertemu kembali.

the team

Tengkiu so much my friends, my Krakatauers, u’re all rockin.

Deep hug and kiss : Ajeng, Bunga, Dinda, Sisca, Kumara, Sherly, Anggun, Gita, Riana, Dyah, Atih, Mba Esti, Mba Affani, Mas Dwi, Mas Ardy, Mas Aryo, Wisnu Cimol, Arya, Wisnu Harahap, Fauzan, Mas Gamet, Reza, Primas, Rahmat, Lutfi, Mas Liko.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.