Jalan-Jalan ke PADANG

Sebenarnya perjalanan ini tahun lalu di bulan Desember. Mendapat tugas mengantar dokumen negara yang disebut DIPA ke kantor wilayah di Padang bersama 2 orang rekan, ibu (Lola) dan mbak (Risky). Awalnya aku gak tau klo dapat tugas dinas ke Padang, meski sebenarnya emang aku pengen dapat ke Padang, eh taunya beneran dapat. Alhamdulillah ya…

Menumpang pesawat Lion Air, kami pagi itu mendarat di bandara Minangkabau. Kami dijemput oleh pegawai Kanwil dan menuju ke kantor. Setelah bertemu beberapa orang penting di Kanwil (bukan sok penting tapi emang orang penting lho, pejabatnya gitu..) kami melaksanakan tugas kami menyerahkan DIPA. Cek…cek and ricek semuanya kelar dan beres. Kemudian kami pun berpamitan dan diantar menuju ke hotel (cepet banget ya hehehe).

Hotel Padang, ini dia hotel kami, bangunan depannya bangunan tua jaman Belanda tapi kamar-kamar di bagian belakangnya ada yang bangunan tua ada juga yang bangunan baru. Meski agak sedikit seram, bukan karena apa-apa, karena bangunan kanan kiri hotel rusak semua karena gempa Padang saat itu dan klo membayangkan korban-korbannya, widih, jd ngeri sendiri. Dan asli aku agak (kurang) bisa tidur euy hu..hu..hu…Bayangkan bangunan disebelah kanan dan kiri hotel sudah hancur, bahkan sudah ada yang diratakan. Apakah ada korbannya disana, entahlah tak mau lah diri ini membayangkannya.

Hari kedua, kami menuju ke Payakumbuh mengantar salah satu rekan, bu Lola, karena beliau ini orang asli Payakumbuh jadi sekalian pulang kampung ceritanya. Dengan diantar sopir kami pun berangkat. Waktu tempuh sekitar 5-6 jam melewati Padang Panjang, Bukittinggi dan Payakumbuh. Di Padang Panjang kami mampir makan siang di sate padang Mak Syukur yang terkenal itu. Di dinding bangunan tersebut tampak foto-foto Pak Beye beserta ibu. Konon katanya klo ke Padang Pak Beye (SBY) selalu makan disini.

Lanjut….Perjalanan dari Padang Panjang ke Bukittinggi. Sepanjang perjalanan disuguhi pemandangan alam yang luar biasa indah, bukit-bukit yang menghijau, air terjun, sungai dan ada rel kereta. Wait…rel kereta? Ya, dsini memang ada rel kereta, ini merupakan rel kereta wisata jurusan Padang ke Bukittinggi yang hanya beroperasi pas wiken saja. Tapi sayang karena gempa banyak rel yang tertimbun longsoran sehingga tidak dapat beroperasi.

Bukittinggi-Payakumbuh sebenarnya bisa ditempuh selama 1 jam saja, tapi karena saat itu hujan dan jalanan rusak jadi banyak jalan yang berkubang dan membuat sedikit terganggu. Dalam perjalanan menuju ke Koto Tuo tempat bu Lola melewati jalan kecil dan kami sempet bertemu dengan monyet yang dibonceng motor. Hehehe lucu ya…ternyata ini adalah monyet yang dilatih untuk memetik buah kelapa, bisa juga lho mereka disewakan. Di Payakumbuh ini penduduknya memang memanfaatkan tenaga monyet untuk memetik buah kelapa.

Kota Payakumbuh sendiri tidak terlalu rame, ya seperti kota kabupaten pada umumnya. Kabarnya Payakumbuh ini akan dijadikan ibu kota propinsi menggantikan kota Padang. Karena kontur geografi Payakumbuh yang rata dan tidak berbukit-bukit relatif aman dari bencana alam. Seiring berjalannya waktu dan rasa capek akhirnya sampailah kami ke rumah orang tua bu Lola.

Rumahnya asri, dikelilingi pohon-pohon besar, ada pohon sawo dan di bagian belakang penuh pohon kakao beberapa hektar. Beristirahat sejenak dan makan makanan khas Padang, Cuma aku lupa apa aja namanya tapi yang jelas ajib dah. Satu yang paling aku suka, ayam goreng cabe hijau, mantap. Tiba waktunya untuk berpamitan, tinggal kami berdua, bertiga dengan pak sopir melanjutkan ke Bukittinggi.

Di Bukittinggi kami mampir sebentar ke Ngarai Sianok, dan bener-bener terjun langsung ke sungai yang ada dibawah lembah, mengunjungi Jam Gadang tapi tidak sempat mampir ke pasar bawah dan atas meski letaknya cuma sebelahan ma Jam Gadang, karena kami mengejar waktu biar tidak terlalu malam sampai di Padang. Tapi dalam perjalanan kami mampir dulu beli oleh2 di salah satu toko souvenir. Puas..puas..puas….
Sampai di Padang jam 9 malam…makan nasi goreng..kembali ke hotel dan tidur…

Esok hari satu rekan, Risky, kembali ke Jakarta dan tinggal lah aku sendiri. Dengan berbekal pengetahuan dari internet, mulailah petualanganku, tapi hanya dibatasi sampe jam 12 saja karena jam 1 mesti take off kembali ke Jakarta. Tadinya berpikir mau naik ojeg untuk berkeliling kota, tapi akhirnya memilih taksi tentunya dengan penawaran yang cukup menarik. Dan dimulailah jalan-jalan aku ini.

Spot pertama melihat reruntuhan hotel ambacang dan beberapa bangunan yang runtuh. Bahkan ada hotel mewah dengan bangunan tinggi juga tak luput ikut rusak.

Taksi pun meluncur ke pantai padang. Pantainya luas dan terlihat di jalan aspal jejak-jejak gempa dimana banyak retakan. Sedang asik foto-foto, tiba-tiba temanku yang orang Padang BBM bilang klo ada gempa, tapi aku tak merasakannya, mungkin karena lagi di pasir jadinya tak terasa ada goncangan. Yasuw lah yang penting tak terjadi tsunami, coba klo terjadi tsunami dan diriku ikut terseret, tentunya tidak akan ada tulisan ini hehe…

Tujuan berikutnya ke Jembatan Siti Nurbaya, view dari sini benear-benar elok, bagus buat foto-foto dan tentunya aku gak melewatkan serta membiarkan kamera ku nganggur, jepret..jepret…jepret….pemandangannya mantap, disatu sisi terdapat kawasan kota lama dengan rumah-rumah jaman dulu dan disatu sisi arah pantai banyak sekali perahu-perahu nelayan. Menakjubkan.

Dari jembatan ini turun ke bawah sedikit sampailah kita ke toko Christine Hakim. Klo kamu berpikir ini toko milik Christine Hakim si artis itu tentu saja bukan, karena toko ini hanya menjual berbagai jenis oleh2 makanan dengan merk Christine Hakim. Merk ini terkenal sekali, karena itu orang klo berkunjung ke Padang belum lengkap klo tidak membeli oleh-oleh Christine Hakim ini.

Karena masih ada waktu sebelum berangkat ke bandara, aku coba basa-basi nanya ke sopir taksi ku, kira-kira klo ke pantai air berapa lama? Dia bilang setengah jam, so, aku beranikan diri ambil keputusan untuk kesana meski dalam hati ketar-ketir juga bisa gak tar kembali ke Padang jam 12an. Melewati bukit naik turun dan berkelak kelok akhirnya sampe juga akhirnya. Benar hanya setengah jam saja.

Oiya, pantai air manis itu pantai yang ada patung si malin kundang itu loh. Hari itu cukup sepi mungkin karena bukan wiken ya. Cuma ada aku, sopir taksiku dan beberapa orang pengunjung lain. Tampak beberapa pemuda dan anak-anak yang menawarkan foto-foto pantai air manis dan beberapa tukang foto. Gak lengkap dong klo tempat wisata gak ada penjualnya, disana pun ada penjual souvenir, pakaian dan jenis oleh-oleh lainnya.

Di pantai ini aku habiskan untuk melihat-lihat dan foto-foto pantai dan patung malin kundang dan kapalnya, ternyata beneran ada patung itu tapi mulai pada rusak bagian kapalnya disana-sini. Baru percaya klo kita melihat dengan mata dan kepala sendiri hehehe. Di seberang pantai ada 2 pulau yang menarik hati untuk dijelajahi. Pulau pisang besar dan pulau pisang kecil. Ku lihat jam tanganku, udah nunjuk jam 10, spontan aja bla..bla..bla dalam keadaan dag dig dug duer antara pengen ke pulau dan dikejar waktu perjalanan ke pulau pun dilalui dengan menyewa perahu penduduk setempat. Inilah petualangan yang sesungguhnya 15 menit dalam lautan sampailah kami ke pulau pisang besar. Menikmati pantainya sebentar dan foto-foto, benar-benar indah sekali, pantai biru, gugusan bukit yang hijau diseberang sana, rasanya terbayar rasa dag dig dug duernya dan kami pun akhirnya kembali ke seberang. Dalam perjalanan ke seberang inilah pertunjukan alam yang menakjubkan lainnya muncul, lumba-lumba, so amazing. Gak salah keputusanku untuk menyeberang pulau tadi, meski ini bener-bener keputusan gila.

Jam 11 tepat kami meluncur kembali ke hotel. Sampai di hotel sopir dari kantor yang akan mengantar ke bandara sudah menunggu, tanpa menunggu lama, aku packing seadanya saja. Ceck out hotel trus ke bandara. Untung gak begitu macet siang itu jadi bisa cepat sampai di bandara sekitar jam 12an lebih. Seru, menegangkan dan ngos-ngosan. Masih dalam keadaan bau pantai air manis dan pasir pantai pun masih tampak jelas menempel di sandal jam 13.00 aku pun terbang kembali ke Jakarta.

*sayang sekali file foto-foto di Padang ini hilang, jadi tak bisa ditampilkan.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.