MIMPI dalam DIARY
15 Mar 2011 Leave a Comment
Aku tak mengerti maunya. Entah hal apa yang dia mau, tapi dia tak mau menceritakannya padaku. Ketika ku tanyakan, dia tak mau menjawabnya. Dia malah bilang, sebagai seorang kekasih seharusnya aku tau apa yang ada dalam hatinya dan apa yang dia inginkan. Tapi, apakah harus seperti itu? Aku bukan Tuhan yang bisa tahu segalanya. Seharusnya dia menyadari itu, kemanakah akal sehatnya itu, kenapa tak digunakannya.
Aku ingat malam itu, dia duduk sendirian di bangku taman. Dan aku datang sebagaimana janjiku untuk menemaninya. Dia tersenyum, berdiri dan memelukku, memagut bibir dalam beberapa detik dan kembali duduk diatas bangku. Tatapannya penuh keceriaan tapi ada sesuatu yang disembunyikannya, aku bisa melihatnya dari sudut matanya. Namun aku tak berani untuk menanyakannya. Tiba-tiba dia berseru dan menunjuk ke atas arah sampingku ‘lihat, ada bintang jatuh, ayo make a wish’, ajaknya. Ku lihat dia segera memejamkan matanya dan sedikit menundukkan kepala dan mulai merapalkan harapan dan keinginannya. Entah apa yang dia pikirkan, aku lebih sibuk memperhatikannya.
Bintang jatuh atau atau apalah itu sebenarnya. Para astronom bilang itu adalah komet yang melintasi bumi, atau juga meteor yang masuk ke atmosfir bumi, mereka terbakar dan terlihat api kobarannya. Tapi aku tak terlalu peduli juga dengan namanya. Aku malah jadi takut sendiri, apabila itu meteor yang jatuh ke bumi dan ternyata tidak terbakar sempurna di atmosfir dan masih berbentuk batuan dan tiba-tiba jatuh di dekat kami malam itu. Ku enyahkan segera pikiran itu dan ku pandangi bulan yang tampak sempurna dalam bulatannya yang elok. Meski dia hanya meminjam sinar dari matahari, tanpa batas waktu yang ditentukan.
Di taman itu dia bercerita, dia mempunyai sebuah buku diary. Setiap hal yang dia alami atau yang dia rasakan selalu dia ungkapkan di dalamnya, begitu akunya padaku. Aku sendiri hanya diperlihatkan buku yang menurutku cukup tebal itu. Sebuah buku bersampul warna merah muda bergambar seorang putri dan domba putih di sebuah padang rumput savana. Dia tak mengijinkanku membacanya dan mengetahui apa yang dia rasakan selama ini. Apakah ada rahasia-rahasia yang sengaja dia sembunyikan dariku? Tapi memang itu fungsinya rahasia kan, bukan untuk dibagi. Klo rahasia sudah diceritakan ke orang lain, orang kepercayaan sekalipun, itu namanya bukan rahasia lagi. Rahasia adalah antara manusia dan Tuhan yang tau.
Sendiri aku duduk di cafe ini. Ku hirup aroma kopi hitamku. Sudah satu jam setengah ku tunggu dirinya, tapi tak juga dia datang. Tak bisa juga ku telpon dia, hapeku mati dan tak ada charger. Aku minta tolong ke pelayan kalau-kalau ada charger yang sesuai dengan hapeku, tapi tak ada juga. Apakah sedikit orang yang punya hape dengan merk seperti yang ku punya? Apakah aku sudah ketinggalan jaman? Sedikit mengusik pikiranku. Makanan yang ku pesan pun sudah tandas daritadi. Padahal rencana awal kan mau dinner bareng, tapi perutku sudah tak bisa diajak kompromi. Apalagi harus menunggu lama begini. Ini sudah cangkir kedua, itupun sudah setengahnya ku minum. Ingin ku pesan yang ketiga, tapi ku urungkan. Bisa-bisa mabuk kopi aku malam ini dan tak bisa tidur semalaman, begadang dan terbunuh dalam keterjagaan. Namun hanya kopi ini yang mampu menemani kesendirianku dalam kebosanan. Ku titipkan pesan pada pelayan bila ada yang datang, aku pun beranjak.
Dia tak datang malam itu. Dia ketiduran setelah seharian tanpa lelah bekerja di lapangan. Aku begitu mengenalnya, dia tak akan bisa tahan lama apabila kecapekan. Hanya tidur obat untuknya. Aku menyebutnya si Putri Tidur. Sering jiwa muda membawa ku dan dia bersama menembus lebatnya hutan, mendaki gunung untuk sekedar menikmati edelweis atau bergabung bersama makhluk-makhluk laut menghirup dunia yang cair. Atau saat gairah sedang meletup, tempat yang sepi pun menjadi pelabuhan terakhir mencari keklimaksan. Setelah semua selesai hanya tidur yang dia butuhkan. Dan aku suka memperhatikan ketika dia tidur, tak ada senyum disana.
“Aku menginginkan yang lain”, ucapnya terbaring diatas dadaku. Aku sedikit tersentak, ku belai rambutnya dan ku tanyakan apa gerangan yang dia inginkan yang lain itu. Dia hanya tersenyum, membuatku jadi penasaran. Aku ingat akan diarinya, mungkin dia menulisnya disana apa yang dia inginkan. Mungkinkah aku akan mengambilnya? Ahhh ku singkirkan sejenak pikiran itu dan kembali mereguk nikmat bersamanya dalam ketelanjangan. Sinar matahari senja menerobos melalui jendela yang ku biarkan terbuka di apartemen kamar lantai 9. Sinar dan warna lembayungnya yang indah seakan mencoba mengungguli kenikmatan kami bertaut dalam lenguh.
Diary itu, apa yang hendak dia ungkapkan. Sungguh rasanya pusing memikirkannya. Tak juga ku temukantitik temunya, atau sekedar petunjuk jalannya. Satu-satunya cara hanya dengan mencuri diary-nya, tidak, bukan mencurinya, meminjamnya sebentar darinya tanpa sepengetahuannya. Tapi bagaimana pula caranya. Aku pun tak tau dimana dia menyimpannya. Hanya keberuntungan yang memihakku hingga dia sendiri yang akan menguaknya, pada suatu hari.
Dia pernah bertanya, apakah aku pernah bermimpi tentangnya di saat aku tidur. Ya pernah, kataku, sering malah. Dia tersenyum, dan bertanya kembali apakah yang kau rasakan saat aku bermimpi tentangnya. Menyenangkan sekali bisa bermimpi tentang seseorang yang aku sayangi, jawabku. Dia kembali tersenyum dan kemudian diam dan tertunduk. Tiba-tiba wajahnya menatapku dan bertanya
‘apa yang kita lakukan dalam mimpi itu?’
‘apakah aku cantik disana? Aku ingin tau’, dengan mata berbinar-binar manja.
“kau cantik sekali disana sayang, sama cantiknya seperti sekarang ini”, sambil ku usap pipinya.
“kadang kita bernyanyi bersama, atau menikmati bulan lewat atap rumahmu, atau sekedar berjalan-jalan dikota menikmati es krim, kamu suka es krim kan”, lanjutku.
‘iya, aku suka sekali es krim, terutama rasa cokelat’.
‘aku senang mendengarnya’, tiba-tiba dia memelukku erat, erat sekali.
Dia tertidur ketika aku ke kamarnya. Dia memang sang penidur, penidur cantik, selain karena capek, kalo dekat dengan bantal saja dia pengennya tidur. Dia bilang pengen bisa sering tidur. Aku tak tau apa itu serius atau hanya becanda saja, tapi aku menangkap isyarat nada serius dalam ucapannya itu. Aku pun mencoba untuk mengerti apa yang menjadi maksudnya meskipun itu semua memang sulit untuk bisa dipahami dengan pikiran sederhana. Tak bisa juga dipecahkan melalui rumus-rumus kimia atau matematika. Apalagi melalui ilmu fisika yang selalu bikin kepalaku pusing bila ujian tiba. Cantik namun rapuh, itu lah dia.
Ku lihat diary itu tergeletak begitu saja di meja. Memang hanya keberuntungan saja yang akan memihakku menemukannya. Bahkan aku tak perlu capek-capek mencari tahu dimana dia menyembunyikannya dan bersusaah payah mencarinya. Segera ku bawa diary itu dan perlahan-lahan, lembar demi lembar ku baca dan kucari tau. Apa yang sebenarnya dia mau. Tapi tak juga ku temukan, semua hanya berkisah tentang kejadian yang dia alami dan yang dia rasa, bukan apa yang dia mau. Mungkin keberuntungan tak datang dua kali dalam sehari pikirku.
Rasanya aku putus asa mencari tahu apa yang dia mau sebenarnya. Aku seperti merasa tak berguna sebagai kekasih, tak bisa memahami orang yang aku sayangi ini. Tapi apakah mungkin aku tau klo memang tak pernah diberitahu apa yang dia mau. Bukannya aku tak berusaha, tapi mencoba memahaminya saja sulit, seperti disuruh mencari barang tapi tak dikasih tau barang apa yang harus di cari. Ku kembalikan diari itu ke tempat semula. Dan dia masih tertidur, aku cium keningnya dan membisikkan sesuatu ke telinganya “mimpi indah sayang”. Sejenak aku berpikir mungkinkah dia selalu membawa apa yang dia mau ke dalam mimpinya. Apakah dia sedang bermimpi sesuatu yang dia mau itu? Aku pun berlalu dan mengendapkan pikiran itu.
Tak berselang lama, dia terbangun dalam tidurnya. Dia tersenyum, ceria sekali, dan terus saja tersungging senyum dari pipinya, lesung pipitnya merekah disana. Dia mencari diarinya dan segera membuka halaman yang kosong dan mulai menulis dengan penanya. Ditulisnya “ dalam seumur hidupku, belum pernah aku merasakan mimpi, itulah kenapa aku selalu ingin terus tidur, agar aku bisa bermimpi. Tapi, baru saja aku merasakan mimpi sekali, disana kekasihku mengucapkan mimpi indah sayang, betapa sebuah mimpi yang indah. Kini apa yang ku mau terwujud sudah, aku lengkap sebagai manusia, bisa merasakan mimpi dalam tidurku”.

Kata-Kata Kalian