Gerimis Petang Hari

Gerimis hujan menjelang petang
Dan aku masih berjalan dalam keramaian
Kendaraan hilir mudik tanpa jeda
Memenuhi jalan yang tak seberapa lebarnya
Gerobak-gerobak penjual makanan pun tumpah
Di sore hari menjelang petang

Di seberang jalan tukang bubur ayam tampak akur dengan penjual mie ayam
Dan tak jauh disebelahnya abang tukang bakso memarkir gerobaknya
Perutku mulai menunjukkan aksi perlawanan
Tanda alam yang meminta untuk disegerakan
Harumnya tumisan bumbu tukang nasi goreng
Si kapal selam, lenjeran dan teman-teman pempeknya
Tersenyum menyambutku di gerobak sebelahnya
Ahhh mulut ini rasanya basah dengan gairah

Oh pecel ayam, ingin rasanya aku memesanmu
Dada ya bang, nasi uduk dibungkus seperti biasa
Tapi kali ini maaf aku numpang lewat saja yah
Di pertigaan bubur ayam lagi dan sedang ramai pembeli
ditemani martabak yang siap menggebrak meja
Bunyi genderang perang cacing-cacing perut semakin membara
Dan aku semakin tak tahan membendung aksi mereka
Sabar ya sbentar lagi kita sampai rumah

Ya Tuhan ada alfamart memanggilku ‘hey ada magnum classic loh’
Maaf aku sedang tak mau, aku sedang butuh kehangatan kataku
Rendang dan ayam bakar di RM Padang pun memgang tanganku
‘mampirlah sejenak, sudah lama kamu tak kesini bukan?’
Tapi aku sudah tak tahan pengen segera sampai rumah yang tinggal sejengkal
Kalo terlalu lama bisa-bisa pingsan aku dibuatnya

Hei mobil warna merah, tak bisakah kau parkir agak ke pinggir dikit
Jalan ini sudah sempit tambah kau parkir jadi lebih lagi
Maaf bapak berhelm, mundurkan motormu sedikit, saya mau lewat
Dan jangan mengobrol di jalan nanti kesambet setan
Dua anak perempuan duduk bercanda dibawah warung yang telah tutup
Sambil bernyayi walau tanpa irama yang syahdu
Dan ku lihat dua orang kuli sedang mengikat barang di atas pick up
Seakan melawan gerimis yang masih terus mengguyur jalanan
Aku pun terus berjalan dibawah lampu jalan yang benderang
Memegang payung biru yang kadang goyah diterpa angin

Oh Tuhan tukang nasi goreng langganan menghadang
Berhenti di tempat biasa dia tiap malam berdagang
Tapi aku hanya menyapa saja ‘ mari kang’
Sampailah aku dirumah…tempat dimana aku biasa tidur telentang
Ku buka bungkusan yang tadi aku tenteng
Semagkok soto ayam ceker dan seporsi ketan susu
Menjadi santap malamku
Di hari gerimis di petang hari.

Advertisement

2 Comments (+add yours?)

  1. Kuum McCoen
    Feb 04, 2011 @ 07:37:35

    Jadi laper… :P

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.