Tak Semestinya….

Dalam hidup…

Aku belajar bagaimana untuk mencintai, bekerja keras, jujur, bijaksana, dan ikhlas memaafkan…

Tapi, Aku tidak pernah bisa belajar bagaimana cara untuk berhenti mengingatmu…

Aku berusaha sekuat hati untuk berani menuliskan sederetan kalimat di atas…
Entah apa alasan dibalik itu semua…aku pun tidak tau…

Selama ini aku selalu menganggapmu seseorang yang sangat berarti dalam hidup aku…
Seseorang tempat aku mengadu, berbagi cerita, suka dan duka…walaupun tak jarang pernah aku rasakan kecewa darimu…

Akan tetapi kenapa…di saat aku berusaha untuk selalu jujur dalam bercerita…
Ada satu hal yang selalu dan selalu tidak pernah berani aku menyampaikannya…
Aku takut…pada saat aku menceritakannya…aku akan kehilangan kamu…
Tidak untuk sehari…seminggu…sebulan…ataupun setahun…melainkan untuk selama-lamanya…
Dilema itu ada dan sering kali aku hadapi…bahkan hingga detik ini…
Biarlah hanya Tuhan dan aku saja yang tau…

Selama bintang bintang masih bersinar di angkasa..
Selama bidadari bidadari surga masih menjaga kita..
Walopun air di lautan mengering.. dan
Sampai waktunya aku tiada..

Aku akan selalu..

Begitu isi suratmu padaku yang kamu kirimkan melalui sebuah email tiga tahun yang lalu. Aku hanya bisa tersenyum begitu selesai membacanya. Perasaan senang dan aneh menggelayut di dada, jadi suka senyam-senyum sendiri…..untung gak ada yang mengira aku sudah gila….

Taukah kamu kalo sejak lama pun aku menaruh hati padamu. Tapi sulit sekali aku ungkapkan karena disaat itu aku sudah punya kekasih hati dan aku tak ingin menyakiti hatinya. Walaupun pada akhirnya kamu pun menjadi milikku.

Dua tahun lebih sudah kita arungi kehidupan bersama dalam sebuah keluarga kecil, Dan aku banyak berdoa dan berharap keluarga kita selalu bahagia. Dan aku bahagia ada dirimu disampingku setia mendampingiku. Dan seorang makhluk Tuhan paling manis yang hadir diantara kita, semoga dia menjadi seseorang yang hebat kelak.

Kini sudah sebulan kau pergi dan aku tak tau apa yang harus ku lakukan. Begitu tega dirimu meninggalkanku dan meninggalkan buah hatimu yang masih suci ini. Hanya satu kekecewaanku padamu, kenapa kamu tak mau berterus terang, tak mau jujur padaku dengan semua yang kau derita selama ini, sungguh aku kecewa.

Dapatkah aku menjalani ini sendiri, mampukah aku. Mungkinkah kamu akan kembali dalam kehidupan nyata ini ataukah tetap dalam kehidupanmu kini. Kemana harus aku cari jejak-jejak kehidupanmu bila tak lagi ku temui kamu disini. Kamu sudah pergi sayangku.

Aku sungguh tak mengerti dengan semua ini. Hari minggu yang cerah, bangun pagi tak ku dapati dirimu. Ahh mungkin ke pasar pikirku atau ke warung tetangga seperti biasa. Ku lihat ananda tersayang bergumam sendirian dalam ranjangnya. Dia memegang erat sebuah amplop putih. Aku angkat dia dan mencoba membuka amplopnya. Mmmm tulisan dari seorang yang ku kenal….

Kamu pamit pergi dan minta tak dicari karena sudah tak mampu lagi menanggung beban yang kamu simpan selama ini. Beban telah membohongiku selama ini dan itu hanya membuatmu semakin sakit setiap hari. Demi cintamu padaku kamu lebih memilih untuk pergi daripada harus menanggung malu. Dan kamu menitipkan ananda yang masih suci ini padaku. Kau bilang bahwa ananda ini bukanlah anak kandungku, karena ketika menikah denganku dia sudah ada dalam rahimmu seminggu dan pelakunya adalah ayahmu yang tak rela kamu menikah sehingga berpisah darinya hanya karena kamu anak kesayangannya.

(cerita pendek setengah fiksi/non fiksi….Jakarta 30 Januari 2011)

Advertisement

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.